Petani Cabai Butuh Sistem IT Agar Punya Daya Saing

0
1206
Petani memetik cabai merah besar di Desa Padas, Kec. Dagangan, Kab. Madiun, Jatim, Senin (26/5). Harga cabai merah besar di tingkat petani merosot dari kisaran Rp 15 ribu-Rp 20 ribu/kg menjadi Rp 8 ribu/kg. ANTARA FOTO/Siswowidodo/ama/14

Petani cabai membutuhkan informasi perkiraan harga cabai dan kondisi cuaca yang akurat untuk menjaga agar harga jangan sampai jatuh saat panen raya terutama di sentra-sentra produksi cabai di Indonesia.

“Dengan informasi tersebut petani setidaknya bisa mengatur panen atau dapat juga diselingi dengan tanaman lain agar tidak serentak,” kata Managing Director PT East West Seed Indonesia, Glenn Pardede di Jakarta, Sabtu.

Petani, jelas Glenn, bisa menyelingi dengan tanaman sayur di luar cabai seperti timun, tomat, dan lain sebagainya sehingga tetap mendapatkan penghasilan, namun disisi lain harga cabai tetap terkendali.

Glenn mengatakan produksi cabai nasional belum merata sepanjang tahun. Ada bulan-bulan tertentu produksi cabai berada di bawah kebutuhan per bulan, misalnya bulan Juli ketika tanaman cabai kekurangan air.

Gleen juga memperlihatkan fakta impor cabai nasional masih tinggi. Per September 2015, Indonesia melakukan impor cabai sebanyak 23,2 juta kilogram dengan nilai total 27,4 juta dolar AS.

Impor ini banyak dilakukan oleh sektor industri terutama industri makanan olahan karena cabai impor lebih murah dari cabai lokal.

Kadin Indonesia bersama dengan pemerintah, petani, dan perusahaan benih nasional saat ini tengah menyusun roadmap dengan tujuan mengendalikan harga cabai agar jangan sampai merugikan petani.

Focus Group Discussion untuk menyusun roadmap telah dilaksanakan pada Kamis (10/11) untuk mendengar sejumlah persoalan agar nantinya dapat dibuat rekomendasi untuk diajukan sebagai suatu kebijakan, jelas Glenn.

Bunbun Bunyamin, petani asal Garut, Jawa Barat, yang juga ikut dalam forum tersebut mengatakan, harga cabai sangat ditentukan kondisi cuaca dan penyakit seperti saat kemarau panjang produksi mengalami penurunan.

Hal serupa juga diakui petani cabai asal Garut lainnya Adek Sobirin yang mengatakan harga cabai di tingkat pengepul hingga konsumen akhir berbeda jauh. Bagi petani cabai, harga harus di atas Rp12.500 per kilogram, kalau di bawah itu petani akan mengalami kerugian.

Menurut para petani, biaya produksi sebagian besar sekitar 70 persen ditujukan untuk pengadaan pupuk dan pestisida, sedangkan 20 persen untuk tenaga kerja dan lahan, sementara pengadaan benih hanya 5 persen. “Meskipun porsinya paling kecil, tapi kualitas benih akan sangat menentukan hasil panen,” kata Adek.

Glenn mengatakan cabai merupakan komoditas pangan dengan rantai perdagangan terpanjang di atas komoditas pangan beras. Untuk sampai di tangan konsumen, cabai merah harus melewati lima tingkatan mulai dari pedagang pengepul, distributor, agen, pedagang grosir, pengecer dan terakhir ke tangan konsumen.

Kendala bagi petani cabai yakni terbatasnya benih cabai unggul berkualitas sementara disisi lain persoalan serangan hama dan penyakit semakin berat. Contoh, virus Gemini dan penyakit layu bakteri yang dapat menyebabkan 100 persen gagal panen.

Glenn mengatakan penggunaan benih hibrida berkualitas terbukti mampu meningkatkan produktivitas petani cabai. Sebagai contoh, produktivitas petani binaan PT East West Seed Indonesia (Ewindo) yang menggunakan benih unggul berkualitas dapat meningkat produksinya 100-120 persen dibanding ketika menggunakan benih lain.

Untuk benih hibrida cabai, Ewindo telah menghasilkan 17 varietas benih cabai hibrida sejak tahun 1991 sampai dengan 2015 dari mulai cabai varietas Jatilaba hingga yang terbaru varietas LABA F1 dan masih diminati petani sampai saat ini.

Masing-masing varietas tersebut memiliki keunggulan di antaranya seperti buah yang seragam, tahan bakteri layu dan virus Gemini, tahan terhadap musim kemarau, dan dapat ditanam di dataran rendah.

Selain memproduksi benih, Ewindo juga berperan serta dalam membina petani di beberapa wilayah di Indonesia. Saat ini, jumlah petani yang dibina secara intensif oleh petugas lapangan Ewindo berjumlah 1,5 juta petani, ujarnya.

Setiap tahunnya, petani binaan bertambah sebanyak 10.000 petani. Seperti di wilayah Sumatera, penambahan petani binaan sebanyak 3.000 petani, di pulau Jawa 5.000 petani, Kalimantan 1.000 petani, sementara di pulau Sulawesi dan Papua 1.000 petani.

Glenn mengatakan untuk membantu petani cabai, perlu adanya pemanfaatan sistem teknologi informasi yang memungkinkan petani untuk mengakses informasi mengenai prediksi harga, kondisi tanah dan perkiraan cuaca secara akurat dan mudah.

“Harapannya melalui aplikasi tersebut petani dapat mengatur masa tanam dan panen cabainya agar tidak mengalami kerugian,” jelas Glenn.

Infobisnis  | Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY